Selamat Datang

SELAMAT BERGABUNG DI RUBRIK MEDIA SMAN 3 MAJENE

Selasa, 01 Februari 2011

Kisah klasik Plato ; Antara Cinta dan Perkawinan

Ini adalah sebuah cerita kisah klasik dari seorang plato, sang ilmuan, sang cendekiawan ilmu. Dia mencoba memaparkan sekelumit pengalamannya dalam mencari sebuah makna cinta dan pernikahan. Kira-kira, beginilah kisahnya : Satu hari, Plato berpikir, merenung dan mencoba mencari sbuah jawaban atas pertanyaan dalam dirinya sendiri. Semakin dia berfikir, semakin dia tidak dapat menemukan jawabannya. Dia baru sadar, bahwa mungkin sang maha guru bias mencari solusi atas seribuh Tanya dalam dirinya. Kemudian dia menghampiri gurunya, yang sedang santai mengisap dalam-dalam sebatang rokok cerutunya. Kemudian diapun bertanya pada gurunya, "Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya? Sejenak terdiam, bercampur kaget Gurunya menjawab, "Ada ladang gandum yang luas di depan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta" Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun. Sang gurupun bertanya nbalik kepada plato, bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?" Plato menjawab, "Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)" Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya" Gurunya kemudian menjawab " Jadi ya itulah cinta" Di kisah yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, "Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?" Gurunya pun menjawab "Ada hutan yang subur di depan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan" Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar / subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja. Gurunya bertanya, "Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?" Plato pun menjawab, "sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya" Gurunyapun kemudian menjawab, "Dan ya itulah perkawinan" Catatan Kecil: Hakekat cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan, tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya. Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia2lah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, karena, sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Selamat Datang

Cara Loging

Contoh Loging Di Blog

Tutorial Blog

Untuk membuatnya Silahkan : Klik Disini

Member Login

Lost your password?

Not a member yet? Sign Up!