Selamat Datang

SELAMAT BERGABUNG DI RUBRIK MEDIA SMAN 3 MAJENE

Senin, 31 Januari 2011

Manajemen Sumber Daya lokal di Majene

Majene sebagai salah satu kabupaten yang akan kaya dengan keunggulan lokal, baik itu dari keunggulan lokal laut, dan darat, hendaknya dikelola dengan baik. tetapi sampai saat ini, masih banyak keunggulan lokal yang masih laten atau belum tersentuh dengan tegnologi. inilah yang menjadi tanggung jawab kita semua, untuik memberdayakan hal tersebut.Biota laut sangat banyak untuk kitakelola agar dapat mendunia, agar dapat menembus era tegnologi didunia, dengan catatan, semua elemen yang terlibat dapat bersikap secara profesional baik dari perencanaan maupun dari aspek pengelolaannya sampai pada pemasarannya. Pergeseran paradigma dari production-centered development menuju kepada people-centered development membawa implikasi timbulnya manajemen pembangunan baru yang dikenal dengan pengelolaan sumber daya lokal atau community-based resource management yang cenderung mendebirokratisasikan pembangunan (Komariah dan Tritna, 2005). Manajemen pembangunan baru telah mengubah peranan birokrasi pemerintah dari merencanakan dan melaksanakan pembangunan untuk rakyat, menjadi menciptakan kondisi yang menimbulkan kemampuan bagi rakyat dan masyarakat untuk membangun diri sendiri. ciri-ciri manajerial dari manajemen baru adalah: a. Pembangunan oleh masyarakat; manajemen pembangunan ini memandang sebagai produk dari prakarsa dan kreativitas masyarakat. Peranan pemerintah adalah menciptakan kondisi atau lingkungan (settings) yang memungkinkan masyarakat memobilisasi sumber-sumber yang ada di dalam masyarakat untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi, sesuai dengan priorotas yang ditentukan; b. Manajemen komunitas (community management); manajemen sumber-sumber pembangunan yang berdasarkan atas pengelolaan sumber daya lokal oleh satuan pengambil keputusan yang menyangkut sistem alokasi sumber nasional. Satuan pengambil keputusan dalam pengelolaan sumber daya lokal ini bukanlah sosok tunggal, akan tetapi struktur yang pluralistik yang mencakup individu, keluarga, birokrasi lokal, perusahaan berskala kecil setempat dan organisasi kemasyarakatan lainnya. Kesemuanya akan berpartisipasi di dalam mobilisasi sumber pembangunan lokal yang manifestasinya dapat bervariasi, seperti keterampilan dan pengetahuan teknis yang belum dilaksanakan secara luas, pekerja setengah menganggur, lahan yang belum dilaksanakan secara optimal, penyuluh lapangan yang pemanfaatannya belum merata, uang tunai yang menganggur (idle), sisa-sisa produksi pangan yang tidak dikonsumsi, sumber air yang belum digali, alat dan hewan yang dibiarkan menganggur dan sebagainya. Semua sumber daya lokal digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sebagimana dirasakan, didalam konteks kerangka kebijaksanaan nasional. Pemenuhan kebutuhan yang harus diprioritaskan ditentukan oleh interaksi antara mekanisme pasar, proses sosial informal, organisasi-organisasi formal setempat dan sebagainya. Didalam manajemen komunitas yang demikian, peranan pemerintah adalah meletakkan kerangka kebijaksanaan dan melaksanakan program-program pembangunan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan satuan pengelolaan sumber daya lokal ini. c. Proses belajar sosial; proses interaksi sosial antara anggota-anggota masyarakat dengan lembaga-lembaga yang ada bertujuan untuk mengembangkan kemampuan melalui kegiatan-kegiatan pemecahan masalah (problem-solving) yang sering dilakukan melalui trial and error. Peningkatan kemampuan ini tidak diperoleh melalui proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan rencana. d. Rencana strategis; manajemen strategis berupaya untuk mengembangkan organisasi yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya, menanggapi tuntutan lingkungannya. Manajemen strategis tidak berupaya untuk menguasai dan memprogram perilaku manusia. Akan tetapi berusaha untuk mengembangkan prakarsa kreatif untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapi. Manajemen strategis berusaha untuk empowering anggota masyarakat dan anggota organisasi, agar mampu mengaktualisasikan potensinya. Didalam manajemen yang strategis, instrumen utama untuk mempertahankan integritas dan arah organisasi bukan sistem pengawasan formal akan tetapi budaya kelembagaan yang kuat yang ditopang oleh pernyataan yang eksplisit dari diktrin dan nilai-nilai organisasi. Melalui penghayatan terhadap budaya kelembagaan ini masing-masing anggota organisasi memberikan kontribusinya didalam proses adaptasi strategis. Meskipun manifesitasi dari sosok pengelolaan sumber daya lokal dapat bervariasi, akan tetapi terdapat sejumlah pokok-pokok pikiran yang terkandung didalamnya. Pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam pengelolaan sumber daya lokal dikemukakan oleh Suprajaka, dkk (1999) sebagai berikut: a. Keputusan dan inisiatif untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat dibuat di tingkat lokal oleh warga masyarakat yang memiliki identitas yang diakui peranannya sebagai partisipan dalam proses pengambilan keputusan; b. Fokus utama pengelolaan sumber daya lokal adalah memperkuat kemampuan rakyat miskin dalam mengarahkan dan mengatasi aset-aset yang ada pada masyarakat setempat untuk memenuhi kebutuhan; c. Toleransi yang besar terhadap adanya variasi dan karenanya mengakui makna pilihan nilai individual dan mengakui proses pengambilan keputusan yang desentralistis; d. Di dalam mencapai tujuan yang ditentukan, pengelolaan sumber daya lokal menggunakan teknik social learning dimana individu-individu berinteraksi satu sama lain menembus batas-batas organisatoris dengan mengacu kepada kesadaran kritis masing-masing; e. Budaya kelembagaannya ditandai oleh adanya organisasi-organisasi yang otonom dan mandiri yang saling berinteraksi memberikan umpan balik pelaksanaan untuk mengoreksi diri pada setiap jenjang organisasi; f. Adanya jaringan koalisi dan komunikasi antara para pelaku dan organisasi lokal yang otonom dan mandiri yang mencakup kelompok-kelompok penerima manfaat, pemerintah daerah, bank desa dan sebagainya, yang menjadi dasar bagi semua kegiatan yang ditujukan untuk memperkuat pengawasan dan penguasaan atas berbagai sumber yang ada serta kemampuan masyarakat untuk mengelola sumber-sumber setempat. Pengelolaan sumber daya lokal juga mengacu kepada konsep dan strategi program pembangunan pertanian berkelanjutan. Dengan mengacu konteks Indonesia, strategi pertanian berkelanjutan harus ditopang oleh beberapa pilar yang dapat dirinci yaitu: (1) pengembangan sumber daya manusia, (2) pengembangan penelitian berbasis sumber daya lokal, (3) pemberdayaan perani dan masyarakat, dan (4) pemberdayaan kelembagaan pendukung pertanian (Wirakartakusumah, 1999). Keempat pilar ini sangat menekankan pada aspek potensi lokal. Ini merupakan salah satu aspek yang relatif sedikit tersisihkan dalam perumusan atau pemilihan teknologi produksi output nasional. Strategi pelibatan potensi lokal secara maksimal pada akhirnya akan menciptakan basis yang luas terhadap program-program yang akan dijalankan.
Ingin membaca selenkapnya...klik disini... … Manajemen Sumber Daya lokal di Majene

Minggu, 30 Januari 2011

PTK : Peningkatan Hubungan sosial siswa melalui Pendekatan BTS

Ingin membaca selenkapnya...klik disini... … PTK : Peningkatan Hubungan sosial siswa melalui Pendekatan BTS

Materi layanan bimbingan konseling tentang Bakat, minat, dan potensi

MATERI LAYANAN BIMBINGAN KONSELING MENGENALI BAKAT, POTENSI, MINAT Topik Pembahasan :Menggali Bakat, Potensi dan Minat Siswa Jenis Layanan :Layanan Informasi Kelas/Semester :X. 1 Tahun Pelajaran : 2008/2009 A. Bakat (Aptitude) Bakat adalah kemampuan dasar seseorang untuk belajar dalam waktu yang relatif pendek dibandingkan orang lain, namun hasilnya justru lebih baik. Contoh : seorang yang berbakat melukis akan lebih cepat mengerjakan lukisannya dibandingkan seseorang yang kurang berbakat. Bakat juga merupakan potensi yang dapat diwujudkan diwaktu yang akan datang. Ini berarti bahwa bakat hanya menunjukkan peluang saja, yakni peluang keberhasilan. Dengan kata lain bakat harus disemaikan, diwujudkan dan dikembangkan. Berdasarkan referensi ada beberapa jenis bakat : a) Bakat Verbal : Bakat tentang konsep-konsep yang diungkapkan dalam bentuk kata-kata. b) Bakat Numerikal : Bakat tentang konsep-konsep dalam bentuk angka. c) Bakat Sekolastik : Kombinasi kata-kata dengan angka-angka. d) Bakat Abstrak : Bakat yang bukan kata maupun angka tetapi berbentuk pola, rancangan diagram, ukuran-ukuran, bentuk-bentuk dan posisi-posisinya. e) Bakat Mekanik : Bakat tentang prinsip-prinsip umum IPA, Tata kerja mesin, perkakas, dan alat-alat lainnya. f) Bakat relasi ruang : Bakat untuk mengamati, menciptakan pola dua dimensi atau berfikir dalam 3 dimensi g) Bakat kecepatan dan ketelitian Klerikal : Bakat tentang tugas tulis menulis, ramu-meramu untuk laboratorium, kantor dan lainnya. h) Bakat Bahasa : Bakat tentang penalaran analisis bahasa misalnya untuk jurnalistik, stenografi, penyiaran, editing, hukum, pramuniaga, dan lain-lainnya. Tugas 3 Mengenali Bakat Diri Sendiri Sebutkan atau perkirakan bakat-bakat yang Anda miliki! Bagaimana Anda memberdayakan bakat-bakat tersebut untuk belajar? Jawaban. B. Minat Minat atau interes adalah kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Minat ikut menentukan tinggi rendahnya kualitas pencapaian hasil belajar siswa. Minat bukanlah suatu yang statis atau berhenti, tetapi juga dinamis dan mengalami pasang surut. Minat bersifat dapat dipelajari, maksudnya sesuatu yang semula tidak disukai dapat berubah menjadi diminati karena masukan-masukan tertentu. Ini berarti (mata pelajaran tertentu) yang semula tidak bisa berubah menjadi mata pelajaran yang disukai kalau ada perubahan masukan. Jenis-jenis minat (Guilford 1956) a) Minat vokasional merujuk pada bidang-bidang pekerjaan. b) Minat avokasional, yaitu minat untuk memperoleh kepuasan atau hobi misalnya petualangan, hiburan, apresiasi, artistic, ketelitian dan lain-lain. Minat vokasional terdiri atas 3 kelompok yaitu : - Minat profesional : minat keilmuan, seni dan kesejahteraan sosial. - Minat komersial : minat pada pekerjaan dunia usaha, jual-beli, perikanan, akuntansi, dan lain-lain. - Minat kegiatan fisik : mekanik, kegiatan luar, aviasi atau penerbangan dan lain-lain. Tugas 4 Mengenali Minat Diri Sendiri Sebutkan atau perkirakan minat-minat yang saat ini berkembang pada diri Anda! Sejauh mana minat-minat tersebut telah mendukung kesuksesan belajar Anda! Jawaban. C. Kreativitas Kreativitas adalah potensi seseorang untuk memunculkan sesuatu yang baru. Kreativitas atau daya cipta memungkinkan penemuan-penemuan baru dalam ilmu dan teknologi serta dalam semua bidang dalam usaha lainnya. Guilford mendeskripsikan 5 ciri kreativitas: a. Kelancaran : kemampuan untuk memproduksi banyak ide. b. Keluwesan : kemampuan untuk mengajukan bermacam-macam pendekatan dalam pemecahan masalah. c. Keaslian : kemampuan untuk melahirkan gagasan yang orisinal sebagai hasil pemikiran sendiri. d. Penguraian : kemampuan menguraikan sesuatu secara terperinci. e. Perumusan kembali : kemampuan untuk mengkaji kembali suatu persoalan melalui cara yang berbeda dengan yang sudah lazim. Menurut Howard Gardner ada tujuh jenis kreatifitas berdasarkan kecerdasan umum : a. Verbal/linguistic : Kemampuan memanipulasi kata secara lisan ataupun tertulis b. Matematis/logis : Kemampuan memanipulasi system nomor dan konsep logis c. Spasial : Kemampuan melihat dan memanipulisi pola dan desain d. Musikal : Kemampuan mengerti dan memanipulasi konsep musik, seperti nada, irama, dan keselarasan e. Kinestetis-tubuh : Kemampuan memanfaatkan tubuh dan gerakan, seperti dalam olahraga atau tari f. Intrapersonal : Kemampuan memahami perasaan diri sendiri, gemar merenung serta berfilsafat g. Interpesonal : Kemampuan memahami orang lain, pikiran, serta perasaan mereka Bagaimana Anda menerapkan kreatifitas dalam belajar? Bagaimana mengingat, membaca, memahami, mengerjakan hitungan secara kreatif? Temukanlah cara-cara kreatif yang sesuai dengan diri Anda. Tugas. Mengenali Kreativitas Diri Sendiri Sebutkan mana yang menonjol dari ciri-ciri kreativitas yang telah diuraikan di atas, yang ada pada diri Anda! Dan bagaimana Anda mengembangkan kreativitas untuk meningkatkan hasil belajar? Jawaban.
Ingin membaca selenkapnya...klik disini... … Materi layanan bimbingan konseling tentang Bakat, minat, dan potensi

Kamis, 27 Januari 2011

Kajian Motivasi dalam Psikologi

Motivasi merupakan akibat dari interaksi seseorang dengan situasi tertentu yang dihadapi. Menurut Robbins (2001:166) menyatakan definisi dari motivasi yaitu kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu untuk memenuhi beberapa kebutuhan individual. Sedangkan menurut Sondang P. Siagian sebagai-mana dikutip oleh Soleh Purnomo (2004:36) menyatakan bahwa motivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan seseorang anggota organisasi mau dan rela untuk menggerakkan kemampuan dalam bentuk keahlian atau ketrampilan, tenaga dan waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya, dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi yang telah ditentukan sebelumnya. Dari pengertian ini, jelaslah bahwa dengan memberikan motivasi yang tepat, maka karyawan akan terdorong untuk berbuat semaksimal mungkin dalam melaksanakan tugasnya dan mereka akan meyakini bahwa dengan keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan dan berbagai sasarannya, maka kepentingan-kepentingan pribadinya akan terpelihara pula. Sunarti (2003:22) menyatakan ada tiga faktor utama yang mempengaruhi motivasi yaitu perbedaan karakteristik individu, perbedaan karakteristik pekerjaan, dan perbedaan karakteristik lingkungan kerja. Dalam rangka mendorong tercapainya produktivitas kerja yang optimal maka seorang manajer harus dapat mempertimbangkan hubungan antara ketiga faktor tersebut dan hubungannya terhadap perilaku individu. Pada dasarnya motivasi individu dalam bekerja dapat memacu karyawan untuk bekerja keras sehingga dapat mencapai tujuan mereka. Hal ini akan meningkatkan produktivitas kerja individu yang berdampak pada pencapaian tujuan dari organisasi. Adapun yang merupakan faktor motivasi menurut Herzberg adalah: pekerjaan itu sendiri (the work it self), prestasi yang diraih (achievement), peluang untuk maju (advancement), pengakuan orang lain (ricognition), tanggung jawab (responsible). Menurut Herzberg faktor hygienis/extrinsic factor tidak akan mendorong minat para pegawai untuk berforma baik, akan tetapi jika faktor-faktor ini dianggap tidak dapat memuaskan dalam berbagai hal seperti gaji tidak memadai, kondisi kerja tidak menyenangkan, faktor-faktor itu dapat menjadi sumber ketidakpuasan potensial (Cushway & Lodge, 1995 : 139). Sedangkan faktor motivation
ada disini
/intrinsic factor merupakan faktor yang mendorong semangat guna mencapai kinerja yang lebih tinggi. Jadi pemuasan terhadap kebutuhan tingkat tinggi (faktor motivasi) lebih memungkinkan seseorang untuk berforma tinggi daripada pemuasan kebutuhan lebih rendah (hygienis) (Leidecker & Hall dalam Timpe, 1999 : 13). Dari teori Herzberg tersebut, uang/gaji tidak dimasukkan sebagai faktor motivasi dan ini mendapat kritikan oleh para ahli. Pekerjaan kerah biru sering kali dilakukan oleh mereka bukan karena faktor intrinsik yang mereka peroleh dari pekerjaan itu, tetapi kerena pekerjaan itu dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka (Cushway & Lodge, 1995 : 139). TEORI MOTIVASI Motivasi dapat diertikan sebagai faktor pendorong yang berasal dalam diri manusia, yang akan mempengaruhi cara bertindak seseorang. Dengan demikian, motivasi kerja akan berpengaruh terhadap performansi pekerja. Menurut Hilgard dan Atkinson, tidaklah mudah untuk menjelaskan motifasi sebab : 1. Pernyataan motif antar orang adalah tidak sama, budaya yang berbeda akan menghasilkan ekspresi motif yang berbeda pula. 2. Motif yang tidak sama dapat diwujudkan dalam berbagai prilaku yang tidak sama. 3. Motif yang tidak sama dapat diekspresikan melalui prilaku yang sama. 4. Motif dapat muncul dalam bentuk-bentuk prilaku yang sulit dijelaskan 5. Suatu ekspresi prilaku dapat muncul sebagai perwujudan dari berbagai motif. Berikut ini dikemukakan uraian mengenai motif yang ada pada manusia sebagai factor pendorong dari prilaku manusia.
Ingin membaca selenkapnya...klik disini... … Kajian Motivasi dalam Psikologi

Senin, 24 Januari 2011

Instrumentasi Bimbingan Konseling

CHEK/LIST KEBIASAAN BELAJAR N a m a : Jenis Kelamin : S e k o l a h : Kelas : PETUNJUK : 1. Di bawah ini terdapat pernyataan-pernyataan yang berhubungan dengan kebiasaan belajar anda Tujuannya adalah untuk membantu anda mengenal kebiasaan dan sikap belajar yang di gunakan sekarang agar anda dapat membuang kebiasaan dan sikap belajar yang merugikan. 2. Kerjakanlah setiap pernyataan ini sesuai dengan kebiasan belajarmu sekarang ini, bukan menurut pendapatmu yang seharusnya. 3. Bacalah baik-baik pernyataan tersebut, bila ternyata sering berbuat demikian, lingkarilah huruf “ B “ dan bila jarang atau tidak pernah anda lakukan, lingkarilah huruf “ A “ yang disediakan dibelakang setiap pernyataan. Contoh : Saya mencatat bahan pelajaran dalam buku catatan secara teratur. ( A…B ) A. Teknik membaca dan membuat catatan 1. Saya harus membaca suatu bagian bahan pelajaran berulang kali untuk mengerti isinya.(A .. B ) 2. Sulit memberitahukan hal-hal “ yang penting “ dan “ yang tidak penting “ dari bahan yang sedang dipelajari. ( A…B ) 3. Saya membaca dengan keras(bersuara) kata demi kata bahan yang sedang saya pelajari.( A B ) 4. Saya lebih banyak mencatat daripada mendengarkan waktu guru menerangkan. ( A…B ) 5. Saya mengulangi dan menghapal “ di luar kepala “ bahan yang saya pelajari. ( A…B ) B. Kebiasaan dan konsentrasi ( pemusatan perhatian ) 6. Saya mengalami kesukaran dalam memusatkan perhatian pada bahan yang sedang saya pelajari ( A…B ) 7. Saya cenderung untuk melamun waktu saya sedang belajar ( A…B ) 8. Saya lebih banyak menggunakan waktu untuk persiapan tempat ( menyiapkan tempat, bahan, dan lain-lain ) sebelum saya dapat belajar dengan baik. ( A…B ) C. Pembagian waktu dan pengaruh pergaulan dalam belajar 9. Waktu belajar saya tidak terbagi dengan baik, saya selalu memakai waktu untuk hal-hal yang lain. ( A…B ) 10. Pada waktu belajar, saya mengalami gangguan-gangguan luar, seperti adanya kawan, keributan di sekitar tempat belajar saya ( A…B ) 11. Saya sering tidak menyelesaikan tugas- tugas pada waktunya. ( A…B ) 12. Saya lebih banyak belajar pada teman daripada belajar sendiri. ( A…B ) 13. Kegiatan saya di luar sekolah ( misalnya olahraga, berorganisasi, bertamasya, dan lain- lain) mengganggu belajar saya. ( A…B ) D. Kebiasaan umum dan sikap dalam bekerja 14. Saya menjadi bingung dan gelisah dalam menghadapi ulangan/ujian, sehingga tidak dapat memberi jawaban yang tepat dan betul . ( A…B ) 15. Saya menyelesaikan pekerjaan dan menyerahkan ulangan atau ujian sebelum waktu yang ditentukan. 16. Saya berusaha menjawab setiap soal sebaik-baiknya sebelum meneruskan ke soal berikutnya. ( A…B ) 17. Saya berusaha membuat ringkasan tentang hal yang saya pelajari. ( A…B ) 18. Saya merasa terlalu lelah mengantuk dan kurang bersemangat untuk belajar dengan baik. ( A…B ) 19. Saya hanya dapat belajar dengan baik kalau sambil makan makanan kecil atau mendengarkan lagu-lagu atau merokok. (A…B ) 20. Saya tidak senang pada mata pelajaran atau guru tertentu, hal ini mengganggu hasil belajar saya. ( A…B ) Tulislah tiga kebiasaan belajar anda sekarang, yang menurut anda perlu dengan segera anda rubah dan perbaiki : 1. …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… 2. …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… 3. .…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………. LEMBAR JAWABAN CHEK LIST KEBIASAAN BELAJAR N a m a : Jenis kelamin : Pria/wanita S e k o l a h : Kelas : Tgl. Pengisian : PETUNJUK : 1. Kerjakan sesuai kebiasaan belajar anda sekarang, bukan menurut pendapat anda yang seharusnya. 2 . Bila anda telah membaca baik-baik pernyataannya, maka lingkarilah huruf “ B “ bila sering mengalami demikian dan lingkarilah huruf “ A “ bila jarang atau tidak pernah mengalaminya. JAWABAN : A. 1. ( A…B B. 6 ( A...B ) C. 9. ( A…B ) D. 14. ( A…B ) 2. ( A…B ) 7. ( A...B ) 10. ( A…B ) 15. ( A…B ) 3. ( A…B ) 8. ( A...B ) 11. ( A…B ) 16. ( A…B ) 4. ( A…B ) 12. ( A…B ) 17. ( A…B ) 5. ( A…B) 13. ( A…B ) 18. ( A…B ) 19. ( A…B ) 20. ( A…B ) Tuliskan tiga kebiasaan belajar anda sekarang, yang menurut anda perlu dengan segera diubah dan diperbaiki : 1.………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………................................................................................. …………………………………………………………………………………………………………. 2……………………………………………………………………………….…………………………………………………………………………………………………………………………………….. …………………………………………………………………………………………………………. 3………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………. ……………………………………………………………………………………………………………. CARA MENGANALISIS CHECK LIST KEBIASAAN BELAJAR 1. Menghitung jumlah skor jawaban siswa dengan memberikan pembobotan atau nilai dari masing- masing jawaban tiap item /pernyataan berdasarkan kunci penilaian pada table berikut : NO. ITEM N I L A I A B 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 6 9 6 10 -4 8 5 5 5 6 8 5 5 8 -6 -13 -6 -4 7 7 -7 0 -7 0 8 -7 -5 -5 -6 -5 -8 0 0 -6 6 6 3 8 -7 -3 2.Meneliti dalam item/pernyataan –pernyataan mana dari siswa baik secara individu maupun secara kelompok mempunyai kebiasaan belajar dan sikap yang kurang baik atau mendapat nilai negatif(-) dan dalam item mana siswa tersebut telah memiliki kebiasaan dan sikap belajar yang sudah baik atau mendapat nilai positif ( + ) D.INTERPRETASI 1. Bagi siswa pada nomor item/pernyataan tertentu mendapat nilai yang kurang atau negatif (-) Siswa tersebut perlu memperbaiki sikap dan kebiasaan belajarnya dalam hal itu ,bila nilai yang diperoleh siswa tersebut baik atau positif (+) berarti ia tinggal mengembangkan kebiasaan dan sikap belajar tersebut. 2. dapat pula dilihat secara umum (keseluruhan ) kebiasaan dan sikap belajar seorang siswa dengan menjumlahkan skor(nilai) yang diperolehnya dari check list kebiasaan belajar. Skor nilai yang rendah menunjukkan kebiasaan dan sikap belajarnya rendah, sedangkan nilai yang tinggi menunjukkan kebiasaan dan sikap belajar yang baik.
Ingin membaca selenkapnya...klik disini... … Instrumentasi Bimbingan Konseling

Kajian Psikologi Sosial Pendidikan

Pertanyaan yang paling mendasar yang senantiasa menjadi kajian dalam psikologi sosial adalah : " Bagaimana kita dapat menjelaskan pengaruh orang lain terhadap perilaku kita?'". Misalnya di Prancis, para analis sosial sering mengajukan pertanyaan mengapa pada saat revolusi Prancis, perilaku orang menjadi cenderung emosional ketimbang rasional? Demikian juga di Jerman dan Amerika Serikat dilakukan studi tentang kehadiran orang lain dalam memacu prestasi seseorang . Misalnya ketika seorang anak belajar seorang diri dan belajar dalam kelompok, bisa menunjukan prestasi lebih baik dibandingkan ketika mereka belajar sendiri. Gordon Allport (1968) menjelaskan bahwa seorang boleh disebut sebagai psikolog sosial jika dia "berupaya memahami, menjelaskan, dan memprediksi bagaimana pikiran, perasaan, dan tindakan individu-individu dipengaruhi oleh pikiran, perasaan, dan tindakan-tindakan orang lain yang dilihatnya, atau bahkan hanya dibayangkannya" Park menjelaskan dampak masyarakat atas perilaku kita dalam hubungannya dengan peran, namun jauh sebelumnya Robert Linton (1936), seorang antropolog, telah mengembangkan Teori Peran. Teori Peran menggambarkan interaksi sosial dalam terminologi aktor-aktor yang bermain sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh budaya. Sesuai dengan teori ini, harapan-harapan peran merupakan pemahaman bersama yang menuntun kita untuk berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Menurut teori ini, seseorang yang mempunyai peran tertentu misalnya sebagai dokter, mahasiswa, orang tua, wanita, dan lain sebagainya, diharapkan agar seseorang tadi berperilaku sesuai dengan peran tersebut. Mengapa seseorang mengobati orang lain, karena dia adalah seorang dokter. Jadi karena statusnya adalah dokter maka dia harus mengobati pasien yang datang kepadanya. Perilaku ditentukan oleh peran sosial. anda bisa link disini Kemudian, sosiolog yang bernama Glen Elder (1975) membantu memperluas penggunaan teori peran. Pendekatannya yang dinamakan “life-course” memaknakan bahwa setiap masyarakat mempunyai harapan kepada setiap anggotanya untuk mempunyai perilaku tertentu sesuai dengan kategori-kategori usia yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Contohnya, sebagian besar warga Amerika Serikat akan menjadi murid sekolah ketika berusia empat atau lima tahun, menjadi peserta pemilu pada usia delapan belas tahun, bekerja pada usia tujuh belah tahun, mempunyai istri/suami pada usia dua puluh tujuh, pensiun pada usia enam puluh tahun. Di Indonesia berbeda. Usia sekolah dimulai sejak tujuh tahun, punya pasangan hidup sudah bisa usia tujuh belas tahun, pensiun usia lima puluh lima tahun. Urutan tadi dinamakan “tahapan usia” (age grading). Dalam masyarakat kontemporer kehidupan kita dibagi ke dalam masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, dan masa tua, di mana setiap masa mempunyai bermacam-macam pembagian lagi. Teori-teori awal yang dianggap mampu menjelaskan perilaku seseorang, difokuskan pada dua kemungkinan (1) perilaku diperoleh dari keturunan dalam bentuk instink-instink biologis - lalu dikenal dengan penjelasan "nature" - dan (2) perilaku bukan diturunkan melainkan diperoleh dari hasil pengalaman selama kehidupan mereka - dikenal dengan penjelasan "nurture". Penjelasan "nature" dirumuskan oleh ilmuwan Inggris Charles Darwin pada abad kesembilan belas di mana dalam teorinya dikemukakan bahwa semua perilaku manusia merupakan serangkaian instink yang diperlukan agar bisa bertahan hidup. Mc Dougal sebagai seorang psikolog cenderung percaya bahwa seluruh perilaku sosial manusia didasarkan pada pandangan ini (instinktif). Namun banyak analis sosial yang tidak percaya bahwa instink merupakan sumber perilaku sosial. Misalnya William James, seorang psikolog percaya bahwa walau instink merupakan hal yang mempengaruhi perilaku sosial, namun penjelasan utama cenderung ke arah kebiasaan - yaitu pola perilaku yang diperoleh melalui pengulangan sepanjang kehidupan seseorang. Hal ini memunculkan "nurture explanation". Tokoh lain yang juga seorang psikolog sosial, John Dewey mengatakan bahwa perilaku kita tidak sekedar muncul berdasarkan pengalaman masa lampau, tetapi juga secara terus menerus berubah atau diubah oleh lingkungan - "situasi kita" - termasuk tentunya orang lain. Berbagai alternatif yang berkembang dari kedua pendekatan tersebut kemudian memunculkan berbagai perspektif dalam psikologi sosial - seperangkat asumsi dasar tentang hal paling penting yang bisa dipertimbangkan sebagai sesuatu yang bisa digunakan untuk memahami perilaku sosial. Ada empat perspektif, yaitu : perilaku (behavioral perspectives) , kognitif (cognitive perspectives), stuktural (structural perspectives), dan interaksionis (interactionist perspectives). Perspektif perilaku dan kognitif lebih banyak digunakan oleh para psikolog sosial yang berakar pada psikologi. Mereka sering menawarkan jawaban yang berbeda atas sebuah pertanyaan : "Seberapa besar perhatian yang seharusnya diberikan oleh para psikolog sosial pada kegiatan mental dalam upayanya memahami perilaku sosial?". Perspektif perilaku menekankan, bahwa untuk dapat lebih memahami perilaku seseorang, seyogianya kita mengabaikan informasi tentang apa yang dipikirkan oleh seseorang. Lebih baik kita memfokuskan pada perilaku seseorang yang dapat diuji oleh pengamatan kita sendiri. Dengan mempertimbangkan proses mental seseorang, kita tidak terbantu memahami perilaku orang tersebut, karena seringkali proses mental tidak reliabel untuk memprediksi perilaku. Misalnya tidak semua orang yang berpikiran negatif tentang sesuatu, akan juga berperilaku negatif. Orang yang bersikap negatif terhadap bangsa A misalnya, belum tentu dia tidak mau melakukan hubungan dengan bangsa A tersebut. Intinya pikiran, perasaan, sikap (proses mental) bukan sesuatu yang bisa menjelaskan perilaku seseorang. Sebaliknya, perspektif kognitif menekankan pada pandangan bahwa kita tidak bisa memahami perilaku seseorang tanpa mempelajari proses mental mereka. Manusia tidak menanggapi lingkungannya secara otomatis. Perilaku mereka tergantung pada bagaimana mereka berpikir dan mempersepsi lingkungannya. Jadi untuk memperoleh informasi yang bisa dipercaya maka proses mental seseorang merupakan hal utama yang bisa menjelaskan perilaku sosial seseorang. Perspektif struktural dan interaksionis lebih sering digunakan oleh para psikolog sosial yang berasal dari disiplin sosiologi. Pertanyaan yang umumnya diajukan adalah " Sejauhmana kegiatan-kegiatan individual membentuk interaksi sosial ?". Perspektif struktural menekankan bahwa perilaku seseorang dapat dimengerti dengan sangat baik jika diketahui peran sosialnya. Hal ini terjadi karena perilaku seseorang merupakan reaksi terhadap harapan orang-orang lain. Seorang mahasiswa rajin belajar, karena masyarakat mengharapkan agar yang namanya mahasiswa senantiasa rajin belajar. Seorang ayah rajin bekerja mencari nafkah guna menghidupi keluarganya. Mengapa ? Karena masyarakat mengharapkan dia berperilaku seperti itu, jika tidak maka dia tidak pantas disebut sebagai "seorang ayah". Perspektif interaksionis lebih menekankan bahwa manusia merupakan agen yang aktif dalam menetapkan perilakunya sendiri, dan mereka yang membangun harapan-harapan sosial. Manusia bernegosiasi satu sama lainnya untuk membentuk interaksi dan harapannya.
Ingin membaca selenkapnya...klik disini... … Kajian Psikologi Sosial Pendidikan

Jumat, 21 Januari 2011

Essay "Sekrup Kecil"

Sebuah Forum ilmiah, yang dikemas dalam bentuk seminar kecil dilaksanakan oleh sekelompok organ-organ tubuh. Mata, telinga, hidung, bibir, limpa, jantung, ginjal, semuanya berkumpul untuk mendiskusikan keberadaan dan peran setiap bagian organ tubuh. Mata berkata, “tanpa saya, hidup tak akan pernah berarti . Dengan saya, kita dapat melihat merahnya merah, cantiknya wanita ataupun indahnya panorama .” sesudah itu, telingapun berujar, tanpa saya, semua akan menjadi sunyi, sepi dan hening. Dengan saya, kita dapat mendengar merdunya sebuah lagu, gemericik air lembah ataupun panggilan yang tidak akan pernah terjawab oleh bibir. Sesudah itu, jantungpun angkat bicara dengan nada yang pasti, “tanpa saya, kehidupan itu sendiri tidak akan pernah ada.” Siapa sih yang akan menampikkan keberdaan saya, mana ada yang berani menggugat kemustahakan jantung? Semuanya terdiam, terhenyak dan tertunduk lesu, tiba-tiba dubur angkat suara, memecah keterdiaman, “jadi kalau begitu, saya ini tidak ada gunanya?, saya tidak ada apa-apanya?” semua lalu tertawa. Menertawai dubur yang mereka anggap terlalu rendah, hina dan tak tahu diri. Dubur karena kesal, lalu mogok bekerja. Total mampet. Dua hari kemudian, mata jadi kunang-kunang, telinga jadi panas tak teratur, jantung jadi lesu. Hati yang menjadi pabrik kimia bagi tubuh kalang kabut karena sistemnya menjadi kacau. Hari ketiga, mereka dengan terpaksa mengadakan seminar lagi dengan memberi pengakuan dan pentasbian tentang peran dubur bagi bangunan yang bernama manusia. Semua merasa miris, takut bahwa dubur benar-benar akan mogok total. Dubur dengan tenang dan senang menerima pengakuan itu, lalu kemudian bekerja lagi. Semua lantas kembali lancar. Itulah adanya, itulah sebuah kenyataan, bahwa sebuah sistem, sebuah perangkat bekerja karena semua aspek berperan dan berfungsi serta difungsikan sebagaimanamestinya. Pada sebuah percetakan pernah pula terjadi ngambek-nya sebuah sekrup kecil. Entah kenapa, sekrup yang tidak diakui fungsi dan keberadaannya terpelanting dan masuk diantara dua rol bantalan mesin foto copy. Sekrup kecil tersebut kontan mengancurkan bantalan cetak yang sangat vital. Mesin terpaksa berhenti, dan tidak berproduksi lagi. “Kita ini apalah? Hanya sebuah sekrup kecil dalam mesin besar” Ini ungkapan yang sering kita dengar dari mulut orang-orang yang merasa dirinya tak berguna. Perasaan nobodyness , rendah diri yang jelas-jelas mengganggu motivasi kerja. Padahal tanpa sekrup tersebut, ia bukanlah apa-apa, ia bukanlah sebuah sistem, tetapi satuan-satuan suku cadang yang priti, lengkap dan berkontaminasi. Di Hotel-hotel megah yang ada di kota besar, ada sebuah “sekrup kecil” yang terkenal. Ia adalah seorang doorman yang setiap harinya berdiri tegak bagaikan patung di depan pintu. Setiap saat ia membukakan pintu mobil tamu-tamu yang datang, lalu menyuguhkan senyuman lebar tulus dan ikhlas. Beberapa tamu yang sering berkunjung yang bahkan sudah dikenalnya disapanya dengan penuh arti. Kualitas layanan yang personalized ini sepertinya sudah jarang didapatkan. Kelahapan semangat seperti yang ditunjukkan seorang doorman tersebut, hendaknya menjadi sarapan yang harus dimiliki oleh semua orang yang nota bene terangkum dalam suatu sistem. Ini terkait erat dengan bagaimana motivasi instrinsik yang dimiliki oleh seseorang, serta bagaimana kita berkaca dan bagaimana kita belajar mendengarkan seseorang, bahkan sebelum orang lain tersebut mengeluarkan suara untuk kita dengar dan kita jawab. Ambillah organisasi atau institusi kepemerintahan sebagai sebuah contoh. Sebuah organisasi, mnenurut teori, harus memenuhi empat kriteria: sederhana, lengkap-terpadu, pragmatis, dan mempunyai komunikabilitas. Sebuah organisasi disebut sederhana bila tidak terjadi tumpang tindih dalam sistemnya. Dan Sebuah organisasipun dikatakan lengkap dan terpadu bila semua pekerjaan yang telah direncanakan dapat diselesaikan. Nah, sebuah dilemma di depan mata. Kriterianya benar, tetapi didalamnya ternyata ada “jebakan” tanda Tanya besar akan muncul, adalah bagaimana membuat orang-orang itu cocok dalam “kotak”-nya.(Manajemen Kreatif). Hal ini tergantung, akan kita bawah kemana sebuah organisasi tersebut? Apakah kita menganut paham organization by function ataukah organization by product, ataukah juga keduanya. Ketika kiblat organisasi tersebut diarahkan pada Organization by function, maka kemungkinan lebih besar untuk produksi massa dan mudah diatur dalam rangka efisiensi, sedangkan pada organization by product, maka organisasi tersebut akan memberikan sistim koordinasi yang maksimun dengan kata lain titik pusat perhatian akan diarahkan pada salah satu aspek atau prodak. Pertanyaan yang mungkin timbul sekarang adalah, apakah kita semua sekarang sedang menghadapi dilemma yang tragis dan tak terpecahkan? Haruskah kegagalan tersebut menjadi menu yang lahap untuk kita santap setiap saat? Haruskah kita menciptakan manusia-manusia yang “sakit” justru ketika kita sekarang berkeinginan menuju manusia yang penuh arti dan makna. Memang tampak seperti ada ironi dalam kehidupan modern ini. Rasanya, dahaga kita akan temuan baru tak pernah terpuaskan, tetapi pada momen yang sama kita terjebak dan tenggelam dalam ketakberartian zaman. Kelihatannya hanyalah sebuah permainan kata-kata dan arti, tetapi mungkin ada baiknya kita renungkan, khususnya kepada anda yang sering dirundung kegagalan. Siapa sih yang tak pernah gagal dalam hidupnya. Tetapi seperti yang dikatakan Edwar de Bono, “bila saya mampu mengatasi kegagalan itu, artinya saya lebih besar daripada kegagalan itu sendiri” (Manajemen Konflik). Kegagalan adalah hanyalah sebuah pernyataan. Kesuksesan tidak pernah mengajarkan sesuatu kegagalan. Sebaliknya kegagalan hampir selalu mengajarkan kepada orang sebuah pengalaman baru untuk menghadapi masa depannya. Orang-orang yang sukses di dunia adalah orang-orang yang pernah mengalami kegagalan. Kemampuan untuk mengatasi kegagalan adalah kekuatan yang mendasari orang-orang sukses dalam kehidupannya. Kemauan. Yah, Itu sajalah yang diperlukan. Kemauan untuk berubah, belajar dari kegagalan hidup. Ketika ada kemauan, maka kita akan dapat bangkit lebih tegar, semangat di atas puing dan serpih itu. Yakinlah, bahwa pada titik paling terbawah sebuah kegagalan, keadaan tidak bisa lebih buruk dari yang kita risaukan dan kita bayangkan yang akan kita alami. KOMUNIKASI EFEKTIF. Ketika kegagalan menjadi penghias kehidupan kita, maka jurus yang paling jitu dan wahid untuk kita gunakan adalah bagaimana tingkat komunikasi yang dilakukan. Sistem komunikabilitas yang baik dalam sebuah setting organisasi, akan melahirkan pula suatu keberhasilan. Suatu sinyal yang keluar dari mulut ke mulut adalah sebuah permaknaan yang harus kita tahu. Isi pesan, makna pesan dan akses pesan tersebut akan bergerak kearah kemana. Ketika kriteria komunikasi berjalan dengan baik, maka hasil yang diharapkan akan kita peroleh. Sebuah anekdot tentang seorang wisatawan yang tersesat disebuah kampung. Kepada seorang petani ia bertanya, “Pak, mana jalan yang terdekat ke kota?” Pak tani hanya menggeleng kepala sambil berkata bahwa ia tak tahu. Wisatawan itu menjadi jengkel dan berkata, “kamu bodoh sekali yah” Petani itu dengan tenang menjawab, “mungkin saya memang bodoh. Tetapi, yang sekarang ini tersesat bukanlah saya ”. Anekdot tersebut di atas, hampir sama dengan kisah seorang wisatawan yang bertanya kepada seorang petani, “kalau saya ambil jalan ini lurus saja, berapa kilometer lagi saya akan tiba di kota?” jawab petani 50 kilometer. Wisatawan itu pergi setelah mengucap terima kasih. Tetapi, sebentar kemudian ia kembali kepetani yang tadi. “Lho orang lain ternyata memberitahu saya kalau saya ambil belokan yang ke kiri jaraknya hanya tiga kilometer, Kenapa kamu tak mengatakannya kepada saya?” Tanya wisatawan itu dengan gusar. Petani dengan tenang menjawab, “Itu kan bukan yang Anda tadi tanyakan?” Dua kisah tersebut di atas, hanyalah merupakan sebuah anekdot, hanyalah kisah dari mulut ke mulut. Tetapi mungkin juga inilah yang sering terjadi dimasyarakat. Suatu apersepsi yang salah dalam menyampaikan isi pesan serta cara merespon pesan tersebut. Kisah-kisah tersebut di atas, bisa jadi tak akan pernah hilang, alias, kisah tersebut akan menjadi sebuah pembiasaan yang sebenarnya salah dan semu. Tetapi, apa yang dapat kita tarik dari kisah anekdot tersebut di atas, adalah bahwa apa yang kita tanyakan dan apa yang kita suruhkan, itulah yang akan kita terima. Ada ungkapan dalam bahasa inggris: Silly Question deserves silly answer. Kesimpulannya adalah bagaimana cara kita menyampaikan pesan supaya orang lain mendengar dan melakukan apa yang kita minta lakukan, dan sebaliknya, bagaimana caranya kita mendengar supaya orang lain mau berbicara. Inilah suatu hal sederhana, kecil seperti sebuah sekrup kecil tetapi mengandung makna yang mendalam. Ketika kita dapat menciptakan hubungan yang kondusif antar sesama melalui komunikabilitas yang efektif dan efisien, maka semua harapan, keinginan, dan tujuan yang ingin kita raih akan terwujud. Bahkan ketika kita bisa mendengar sesuatu yang bahkan belum diucapkan, maka itulah sebuah kebermaknaan hidup yang sempurna. Tetapi, semuanya terletak pada yang Maha Agung dan Maha Tahu. Manusia sebagai insane kamil di dunia ini hanya bisa berusaha dan berdo’a, semuanya akan kembali kepada yang di atas. Wallahu Alam Bissawab, hanya Tuhan yang tahu segalanya.
Ingin membaca selenkapnya...klik disini... … Essay "Sekrup Kecil"

Jumat, 14 Januari 2011

Gaya Belajar

Gaya Belajar Gk
ehidupan baru seorang mahasiswa membawa kepada dua keadaan yang sangat berbeda. Di satu sisi bisa menikmati kebebasan yang lebih besar ketika dibandingkan ketika masih di SMA, di sisi lain dituntut untuk dapat bersikap dan berperilaku secara mandiri selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Kemandirian tersebut menjadi sangat penting berkaitan dengan perbedaan sistem belajar mengajar yang diterapkan di SMU dan di Perguruan Tinggi. Di SMA, siswa lebih cenderung sebagai penerima bahan-bahan pelajaran dari guru, sebaliknya di Perguruan Tinggi, mahasiswa diharapkan lebih bersikap aktif dalam pengembangan materi kuliah yang diberikan dosen. Sehubungan dengan hal tersebut, mahasiswa perlu memiliki dan mengembangkan suatu pola/gaya belajar tertentu yang memungkinkan untuk mengikuti sistem perkuliahan dengan baik. Setiap orang memiliki dan mengembangkan pola/gaya belajar tersendiri, dipengaruhi oleh temperamen/kepribadian dasar dan kebiasaan/habit, serta berkembang bersama waktu dan pengalaman. Pola/gaya belajar tersebut juga perlu disesuaikan dengan karakteristik jurusan/bidang studi yang dimasuki, yang selanjutnya akan turut mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam meraih prestasi yang diharapkan. Pola/gaya belajar bagaimana yang sesuai ? Coba simak beberapa pola/gaya belajar berikut ini : 1. Kolaboratif - Independen Seseorang yang merasa lebih mudah untuk belajar bisa dilakukan bersama teman atau kelompok termasuk memiliki gaya kolaboratif, bisa diterapkan pada mahasiswa yang mengambil jurusan manajemen, sastra, dan perhotelan. Sebaliknya, gaya independen dimiliki oleh mereka yang lebih suka untuk belajar sendiri, sesuai untuk diterapkan pada jurusan seni, desain, teknik sipil, teknik arsitektur. 2. Tactile - Verbal Gaya belajar tactile menjadi ciri dari orang-orang yang suka menggunakan gambar, diagram, hitungan, dan banyak praktek, antara lain menjadi ciri khas mahasiswa dari jurusan teknik sipil, teknik arsitektur, desain, teknik mesin, akutansi, teknik industri. Sedangkan mereka yang lebih suka belajar dengan membaca atau menulis, menganut gaya belajar yang bersifat verbal, misalnya terlihat pada mahasiswa dari jurusan sastra, manajemen. 3. Persepsi Kongkrit - Analisa Abstrak Ada orang yang merasa lebih mudah mempelajari sesuatu berdasarkan pengalaman-pengalaman yang nyata/konkrit, disebut sebagai gaya belajar persepsi konkrit, seperti dengan cara menghafal atau tinggal menerima saja suatu informasi. Sebaliknya adalah mereka yang lebih suka menggunakan analisis abstraki, meliputi belajar dengan cara menggali sendiri dan belajar dengan memfokuskan pada pemahaman/pengertian suatu makna. 4. Auditori - Visual Seorang mahasiswa yang merasa lebih mudah mempelajari sesuatu bila mendengarkan keterangan-keterangan dari dosen, disebut memiliki gaya belajar auditori. Adapula mahasiswa yang merasa mudah untuk belajar bila dengan cara melihat atau membaca bahan-bahan kuliah, disebut memiliki gaya belajar visual. 5. Terstruktur - Tidak Terstruktur Seseorang dengan gaya belajar terstruktur cenderung membutuhkan petunjuk dan batasan yang jelas dalam mempelajari sesuatu hal, misalnya nampak pada mahasiswa dari jurusan akutansi, teknik sipil. Sebaliknya, mereka yang memiliki gaya belajar tidak terstruktur, lebih suka menjabarkan dan menggali lebih dalam hal yang dipelajari, misalnya terlihat pada mahasiswa dari jurusan seni, desain, teknik arsitektur, sastra. 6. Sprinter - Maraton Gaya belajar sprinter dimiliki oleh orang-orang yang bisa belajar lebih baik bila berada dalam suatu tekanan. Sebaliknya mereka yang memerlukan persiapan lebih dahulu jauh-jauh untuk bisa mempelajari sesuatu termasuk memiliki gaya belajar yang bersifat maraton. Demikianlah sekilas uraian mengenai beberapa pola/gaya belajar. Dengan mengenali gaya belajar dan karakteristik pribadi serta jurusan/bidang studi yang ditekuni saat ini, diharapkan dapat menyokong dalam meraih prestasi belajar seoptimal mungkin. Selamat belajar !
Ingin membaca selenkapnya...klik disini... … Gaya Belajar

Rabu, 12 Januari 2011

Kata Tanya "Sang Oemar Bakri"

Dengan sikap terbata-bata, Dengan suara tersendat-sendat, Dengan hati tersumbat darah, Guru bertanya dalam guman: Bolehkah kami bertanya, apa artinya tugas mulia ketika kami hanya terpinggirkan tanpa ditanya tanpa disapa? Kapan pengetahuan kami, bukan ilmu kadaluarsa! Mungkinkah berharap yang terbaik, dalam kondisi yang terburuk Kapan pengetahuan kami, bukan ilmu kadaluarsa! Mungkinkah berharap yang terbaik, dalam kondisi yang terburuk (Essamad)
Ingin membaca selenkapnya...klik disini... … Kata Tanya "Sang Oemar Bakri"

Ragam Kecerdasan

a. Potensi Intelektual
Kemampuan intelektualnya adalah kecerdasan atau intelegensi. Satuan ukurannya ialah Intellegence Qoutient (IQ). Intelegensi adalah keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah, serta mengolah dan menguasi lingkungan secara efektif ( Marthen Pali,1993 ).
Untuk mengetahui intelegensi dapat dilakukan dengan cara sekilas yakni mengamati hasil belajar sehari – hari (nilai ulangan harian sampai nilai rapor); atau secara teliti melalui pemeriksaan psikologis dengan tes intelegensi.
Yang terakhir ini menghasilkan angka – angka yang menggambarkan taraf kecerdasan tertentu, misalnya :
No. IQ Klasifikasi Prestasi Minimal
1. - 79 Kemampuan Intelektual Rendah -
2. 80 – 89 Kemampuan Intelektual Di bawah rata – rata 5,5
3. 90 – 109 Kemampuan Intelektual Rata – rata 6
4. 110 – 119 Kemampuan Intelektual di Atas rata – rata 7
5. 120 – 135 + Kemampuan Intelektual Superior 9
Sumber : Marthen Pali, 1993
Perhatian !
Kita harus hati – hati dan bijaksana dalam memahami, menyikapi dan menterjemahkan apa itu intelegensi dan angka – angka hasil test intelegensi !
Sungguh arif jika Anda proaktif untuk berdiskusi dengan pakar yang tepat, yakni guru pembimbing (Bimbingan dan Konseling), psikolog, atau lembaga penyelenggaara tes psikologi yang ada. Mengapa demikian ? Sebab sering terjadi hasil tes IQ itu dipersepsi salah oleh bahasa awam !
b. Kecerdasan Sosial
Tingginya taraf kecerdasan rasional (otak) terbukti belum menjamin gemilangnya prestasi seseorang dalam kehidupan sehari – hari ketika belajar / bergaul dan berinteraksi sosial secara nyata. Untuk itu, ada upaya mengidentifikasi jenis kecerdasan lain.
Dicobalah menemukan kecerdasan jenis lain itu, dan dinamai kecerdasan sosial. Kecerdasan sosial ini, terdiri dari kepekaan sosial, komunikasi yang baik, empati, pengertian / pemahaman terhadap orang lain (Munandir, 1995).

c. Kecerdasan Emosional (Emotional Qoutient)
Kecerdasan emosional adalah intelegensi dunia perasaan seorang individu.
Seorang pakar mengartikan kecerdasan emosional sebagai kemampuan individu untuk mengenali emosi (perasaan) diri sendiri dan emosi orang lain, memotivasi diri sendiri, dan mengelola emosi itu dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain (Goleman, 1999 dalam Ramli, 2001).
Bisa terjadi seseorang yang cerdas (otaknya) namun dapat menjadi sedemikian tidak rasional (menjadi “bodoh”). Mengapa ? Kcerdasan akademis (IQ) sedikit saja kaitannya dengan kehidupan emosional. Dapat saja orang yang paling cerdas pun diantara kita, terperosok ke dalam nafsu tak terkendali dan meledak – ledak ! (Goleman, 1999).
Kecerdasan perasaan emosional merupakan kemampuan untuk memotivasi diri sendiri, bertahan menghadapi frustasi, mengadakan dorongan hati, tidak melebih – lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati, dan menjaga agar beban stress (tekanan mental) tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, punya empati dan banyak berdo’a. (Daniel Goleman, 1999).



Kecerdasan Emosional

o Mampu memotivasi diri sendiri
o Daya tahan menghadapi frustasi
o Mengendalikan dorongan hati
o Tidak berlebihan atas kesenangan
o Mengatur suasana hati
o Beban stress tidak melumpuhkan daya pikir
o Punya empati
o Banyak berdo’a




Wacana yang mengejutkan kita adalah betapa peranan kecerdasan emosional itu sangat dominan dalam meniti keberhasilan seseorang !
Bagi kesuksesan seseorang individu, kecerdasan rasional (IQ) hanya berperan 20% saja, sedangkan kecerdasan emosional punya andil 80%. Benarkah ?

d. Kecerdasan Emosional (Emotional Qoutient)
Bakat adalah kemampuan dasar seseorang untuk belajar / bekerja dalam tempo yang relatif pendek dibandingkan dengan orang lain, namun hasilnya justru lebih baik.
Contoh : Seseorang yang berbakat melukis, akan lebih cepat bisa dan cepat menyelesaikan pekerjaan melukis tersebut, dibandingkan dengan orang lain yang tingkat bakatnya dibawahnya.

Bakat (aptitude) juga bermakna potensi yang akan diwujudkan di waktu yang akan datang. Maksudnya bakat menunjukkan adanya peluang saja, yakni peluang keberhasilan (Munandir, 1995). Maka tidak heran ada istilah bakat terpendam.
Dengan kata lain bakat harus disemaikan, diwujudkan, dan dikembangkan. Kalau tidak, lepaslah peluang keberhasilannya. Untuk mengembangkan potensi bakat perlu menggerakkan seluruh aspek

JENIS BAKAT
Menurut beberapa referensi test bakat, dikenali adanya contoh jenis – jenis bakat, yaitu : bakat verbal, bakat numerikal.
• Verbal : Konsep – konsep yang diungkapkan dalam bentuk kata – kata
• Numerikal : Konsep – konsep dalam bentuk angka – angka
• Skolastik : Kombinasi kata – kata dan angka – angka
• Abstrak : Aspek yang tidak berupa kata maupun angka, namun berbentuk pola, rancangan, diagram dengan ukuran – ukuran, bentuk dan posisi – posisinya.
• Mekanik : Prinsip – prinsip umum IPA, tata kerja mesin, perkakas, dan alat – alat lainnya.
• Relasi ruang : Mengamati, mencitrakan pola dua dimensi / berpikir dalam tiga dimensi.
• Kecepatan Ketelitian Klerikal : Tugas tulis menulis, ramu meramu untuk kantor, laboratorium dan lain – lain.
• Bahasa : Penalaran analitis tentang bahasa, misalnya untuk jurnalistik, stenografi, penyiar, editing, hukum, pramuniaga dan lain – lain.


e. Kecerdasan Spiritual
Suatu kecerdasan yang bersangkut paut dengan pengikatan diri dengan Zat Yang Maha Tinggi yaitu Tuhan.
Kecerdasan spiritual merupakan kepekaan batin seseorang untuk melihat dan merasakan perbedaan antara suatu kebaikan dan keburukan, suatu kemampuan diri untuk memilih dan berpihak kepada kebaikan dan merasakan nikmatnya seseorang yang mempunyai kecerdasan spiritual yang tinggi akan tidak mudah cepat putus asa, pantang menyerah, hidupnya akan penuh dengan harapan dan ketenangan hati. Ia sadar bahwa dirinya itu milik Tuhan Yang Maha Kuasa dan Tuhan adalah sumber kebaikan.
Dengan adanya rasa pengikatan diri dengan Tuhannya ia akan berserah diri, ia sadar bahwa manusia memang harus selalu berusaha tetapi Tuhanlah yang menentukan segalanya.

Ingin membaca selenkapnya...klik disini... … Ragam Kecerdasan

Senin, 10 Januari 2011

Contoh Format Satuan Kunjungan Rumah

SATUAN KEGIATAN PENDUKUNG
KUNJUNGAN RUMAH

A. Topik Permasalahn/Bahan :
B. Bidang Bimbingan : Belajar
C. Jenis Kegiatan : Layanan Informasi
D. Fungsi Layanan :
E. Tujuan Layanan : .

F. Sasaran Layanan : Siswa Kelas

G. Gambaran Ringkas Masalah :

H. Tempat Rumah :

I. Petugas Yang Mengunjungi :

J. Anggota dikunjungi dan Apa Yang Diharapkan Dari Mereka :

K. Bahan dan Keterangan Yang Dibawa Dalam Kunjungan :

L. Penggunaan Hasil Kunjungan :

M. Rencana Penilaian dan Tindak Lanjut :

N. Keterkaitan Kegiatan Ini dengan Layanan/Kegitan Pendukung :

O. Catatan Khusus :



Mengetahui
Kepala SMAN 3 Majene


Drs. Syamsul MS, M.Si
NIP. 131414320


Konselor


Arman, S.Pd
NIP. 131629593
Ingin membaca selenkapnya...klik disini... … Contoh Format Satuan Kunjungan Rumah

Senin, 03 Januari 2011

Puisi Sang Langit

Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.
Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.
Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.
Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi.
Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.
Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.
(essamad)
Ingin membaca selenkapnya...klik disini... … Puisi Sang Langit

Selamat Datang

Cara Loging

Contoh Loging Di Blog

Tutorial Blog

Untuk membuatnya Silahkan : Klik Disini

Member Login

Lost your password?

Not a member yet? Sign Up!